Make your own free website on Tripod.com

Hari Idul Adha 1397

Saya lahir di kota Kudus Jawa Tengah tanggal 20 November 1977 jam 5 sore, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1397 atau Hari Idul Adha. Saat orang-orang sibuk dalam kebahagiaan mempersiapkan diri menyambut hari raya dan menikmati kelezatan hewan kurban, dikeluarga saya malah terjadi kerepotan dengan akan lahirnya saya.

Saya anak ke-5 dari 7 bersaudara. Karena yang nomor satu meninggal saat berusia 28 tahun dan yang nomor dua meninggal saat masih anak-anak, jadi posisi saya tidak lagi menjadi nomor 5, tetapi nomor 3.

Karena kelahiran adik saya, maka belum genap usia dua tahun hak asuh saya berpindah dari ibu kandung kepada nenek dari Bapak. Sejak saat itu pula penyusuan saya kepada ibu kandung praktis terhenti dan berpindah “netek” ke nenek meskipun tidak ada sesuatu yang keluar darinya.

Sampai kelas satu SD saya masih saja menyusu, sehingga sering di ejek oleh anak-anak lain. Tumbuh dan berkembang bersama nenek yang memberikan proteksi berlebih, membuat saya menjadi anak yang manja disatu sisi dan merasa repot di sisi yang lain.

Saya dididik oleh nenek tentang etika bersikap sejak dini. Makan, mulut tidak boleh bersuara dan piring tidak boleh menimbulkan bunyi. Berjalan, kaki harus diangkat jangan seperti orang malas. Tidur harus jam sembilan malam, tidak boleh terlambat apalagi hanya karena nonton TV di rumah Ibu. Selain malam Jumat, sehabis Maghrib harus mengaji dan tidak boleh berada dirumah. Selepas sekolah, tidak boleh main kemana-mana dan harus di rumah saja menunggu warung dan melayani pembeli. Dan lain sebagainya.

Walau saya bukan anak paling kecil, tapi dari segi pengasuhan, saya jelas-jelas seperti anak bungsu yang selalu menuntut, manja, dan lain sebagainya. Selain saya, ada satu lagi yang dalam pengasuhan nenek yaitu anak yang nomor satu (sulung), almarhum. Dalam keseharian, saya betul-betul merasakan hidup yang tanpa pernah terjadi adanya persaingan.

Singkat cerita, kemanjaan yang tertanam sejak anak-anak dan kebebasan bertindak tanpa merasakan adanya persiangan, membuat saya ketika dewasa merasa sangat kerepotan menyesuaikan diri ditengah-tengah manusia lain dalam arus pergaulan ; memberi-menerima, untung-rugi, menang-kalah, dan lain sebagainya

Mudah-mudahan pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran tentang kedekatan dan perlindungan kepada seorang anak, terutama Anda (calon) orang tua. Sebagai orang tua tentunya kita ingin bertindak secara adil dan bijak serta seimbang antara keramahan dan kemarahan. Semua itu memerlukan ilmu dan kesadaran untuk berkaca kepada diri sendiri, mana yang terbaik untuk diri kita dan anak-anak kita. Semoga...