Make your own free website on Tripod.com

PERJALANAN

Saya Bekerja

Saya mulai bekerja sejak masih duduk di bangku SD. Bersama nenek, tugas saya adalah  membantu membuat aneka makanan untuk di jual dan melayani pembeli diwarungnya. Lulus SD kemudian saya pindah ke Jakarta untuk rencananya melanjutkan SMP disana. Tapi saya tidak langsung masuk sekolah karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan Jakarta.

Begitu tiba di Jakarta, aktivitas sehari-hari saya dari pagi sampa sore adalah berjualan koran dan majalah di depan gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang lama di kawasan Kebon Sirih, karena memang rumah saya dekat dari situ. Jadi praktis selama setahun itu saya yang baru berumur 12,5 tahun hanya berfokus untuk bekerja mencari uang.

Setiap kali mengantar koran / majalah ke pelanggan di gedung-gedung BEJ dan gedung-gedung lain disekitarnya, karena penampilan saya yang masih anak-anak, banyak orang yang bertanya kenapa saya tidak sekolah, saya malah merasa "minder" dan "malu". Karena tuntutan ekonomi dan gemblengan pelajaran tentang makna kehidupan, walau terpaksa, saya tidak punya pilihan lain kecuali harus menjalaninya.

 

Masuk SMP

 

Setahun berlalu, saatnya saya mulai masuk sekolah. Ada rasa senang sekaligus bingung karena saya membayangkan (menyangka) teman-teman yang nakal-nakal. Dan ternyata betul, karena badan saya yang gemuk dan penampilan yang meyakinkan, ada seorang anak yang memusuhi saya tanpa sebab. Setelah diselidiki, ternyata dia menganggap saya adalah anak orang kaya yang menurutnya wajib dimusuhi. Sebuah anggapan yang kontras dengan kenyataan.

 

Dari sinilah saya jadi belajar, bahwa kebanyakan orang selalu memandang seseorang hanya dari sisi penampilan luarnya saja, tanpa mau merenung sejenak sebelum memberikan "label" tertentu kepada orang bersangkutan. Kesalahan persepsi seperti  ini adakalanya menguntungkan dari satu segi, namun banyak pula kerugiannya karena kita akan hidup bertopengkan kepalsuan.

 

Karena badan yang gemuk itu pula, ada seorang anak lainnya yang seringkali memberikan uang kepada saya. Saya bingung apa maksudnya, tapi saya ambil saja dan  saya nikmati. Rupanya pemberian yang tanpa dasar itu adalah untuk mencari dukungan dari saya supaya menjadi pelindung bagi dia dengan badan saya yang besar. Dan memang, anak itu ternyata tidak betah berlama-lama disana, dan ketika naik ke kelas dua dia hanya mampu bertahan sekitar dua bulan saja untuk kemudian keluar.

 

Tentang badan saya yang gemuk, setiap hari saya jadi menggunakan dua jenis tarif bis kota yang berbeda. Saat saya berangkat kerja dengan berpakaian umum, kondektur tidak mau kalau saya bayar harga anak sekolah yaitu Rp 100,- (cepek) karena badan saya yang "super" itu. Tapi begitu saya menggunakan seragam sekolah ketika pulang, semuanya tidak ada masalah. Uh.., seorang remaja yang hidup diantara dua dunia yang berbeda.

 

Pindah Rumah

 

Kebun Sirih merupakan salah satu kawasan pemukiman dari banyak pemukiman-pemukiman di Jakarta yang selalu tergena gusur. Dari situ akhirnya saya pindah ke daerah Menteng (bagian kampungnya), mengontrak dirumah teman Bapak saya. Jadi rutinitas saya sehari-hari yakni dari pagi usai sembahyang Shubuh berangkat kerja, kemudian siangnya saya masuk sekolah. Dari rumah saya membawa semua perlengkapan sekolah; tas beserta isinya, baju seragam, dan sepatu. Kalau saya harus pulang terlebih dahulu itu tidak mungkin, lagi pula letak sekolah saya berada di kawasan Harmoni.

 

Dalam kesibukan dan kelelahan diantara dua dunia yang berbeda itu, saya sendiri terheran-heran ketika mendapati nilai rapor saya selalu berada di peringkat ke-4 bahkan pernah sekali naik keposisi 3, padahal saya sama sekali tidak pernah mengulang pelajaran dirumah. Bahkan PR-pun tidak pernah saya kerjakan. Jadi untung-untungan, kalau pelajaran yang ada PR-nya itu bukan jam pertama, maka saya bisa mengerjakannya pada jam-jam pelajaran awal. Tapi kalau PR-nya itu ada di jam pertama, kalau saya bisa datang lebih awal maka masih ada kesempatan, sedang kalau tidak, saya terpaksa menggunakan kesempatan pada saat guru sedang berjalan memeriksa dan menilai satu persatu pekerjaan siswanya itu.

 

Tapi untungnya saya selalu selamat. Saya tinggal salin saja pekerjaan teman, masa bodoh pekerjaannya itu benar atau salah yang penting terisi. Dan saya waktu itu sudah punya tekhnik bagaimana supaya tidak terlihat sama persis. Jadi butuh waktu agak lama untuk menulisnya, sehingga kalau belum selesai dan guru bertanya, jawaban saya gampang saja, "nggak bisa pak/bu, susah..!", beres kan ?

 

Kelas tiga SMP bagi saya sungguh sangat menyiksa. Bagaimana tidak, badan saya yang sudah besar tapi masih harus pakai celana pendek dengan lutut terlihat. Saya jadi sangat-sangat-sangat malas untuk sekolah. Kalau pun akhirnya saya berangkat juga,  maka hal itu merupakan hasil dari kemenangan perang bathin. Dan tidak heran kalau saya selalu telat, bahkan pernah hampir satu jam. Kalau ditanya guru apa alasannya, jawabannya gampang saja, macet !!!  (Rumah saya kan jauh ?!). Saya yang rapornya selalu nangkring di peringkat ke-4 bahkan pernah diposisi ke-3 walau tidak pernah belajar, pada semester itu berubah drastis menukik tajam menuju ke posisi 13. Berdasarkan pengalaman ini, seharusnya pemerintah sudah mulai melihat kembali kebijakan tentang format pakaian seragam untuk anak sekolah. Bahwa keberhasilan akademik bagi seorang siswa atau pelajar faktor utamanya berasal dari ketenangan dan kedamaian jiwanya. Jangan pernah berharap anak menjadi hebat dan bintang kelas kalau kondisi psikologisnya amburadul.

 

Lulus SMP

 

Lulus SMP saya berhasil mendapatkan sekolah negeri berdasarkan pilihan saya sendiri. Saya menyesal karena pada saat diberikan kesempatan untuk memilih sekolah yang diinginkan, saya hanya sekedar ikut-ikutan, seharusnya saya memilih yang dekat dengan rumah saya di Menteng untuk dijadikan prioritas pertama, eh malah saya taruh di nomor terakhir atau ke-3).

 

Terus terang, waktu itu saya sangat takut kalau sekolah SMU saya letaknya jauh dari rumah. Berdasarkan apa yang saya saksikan dilapangan saat masih SMP, saya selalu mendapati anak-anak SMU tawuran di rute yang biasa saya lalui. Sedangkan SMU negeri dimana saya diterima itu tempatnya tidak jauh dari SMP saya.

 

Pernah suatu sore ketika saya pulang sekolah dan baru turun dari kendaraan di depan bioskop Megaria untuk kemudian berjalan kaki menuju rumah, ada sekumpulan anak-anak SMU yang tawuran. Karena pakaian saya SMP, maka saya tenang-tenang saya diantara mereka yang tawuran. Tapi tiba-tiba, ada hembusan angin diatas kepala saya yang hanya berjarak beberapa senti saja, lalu kemudian dibelakang saya ada suara seperti sebuah benda jatuh. Setelah saya lihat, ternyata ada sebuah batu yang besarnya dua kali genggaman tangan orang dewasa. Wah..  saya sangat bersyukur yang tak henti-hentinya dan selalu terkenang. Coba kalau batu itu turun sedikit saja, mungkin tidak akan pernah ada tulisan seperti ini, karena entah sudah dimana saya. Tapi itulah hidup, terkadang kita menemukan sesuatu yang menurut akal pikiran susah diterima, tapi nyatanya terjadi.

 

Masuk SMK

 

Beberapa bulan saat saya baru masuk kelas satu SMK (Akuntansi) tepatnya tanggal 31 Oktober 1994 bapak saya meninggal dunia di kampung. Beliau merasakan sakit saat saya masih kelas 1 SMP dan memutuskan untuk tinggal dikampung dalam jangka waktu yang tidak pasti (ternyata kepastiannya, kematian). Itu artinya, kebersamaan saya dengan seorang bapak hanya sekitar 2 tahun lebih saja, yaitu transisi antara SD-SMP setahun, kelas satu SMP setahun, dan beberapa bulan saja saat duduk dikelas 2 SMP.

 

Walau hanya dua tahun, tapi saya merasa bersyukur karena banyak sekali pelajaran tentang kehidupan yang bisa saya adopsi dari pengalaman bapak saya itu, sehingga sedikit-banyaknya mampu memotivasi saya supaya tetap bisa eksis berada ditengah-tengah masyarakat. Eforia kebersamaan ternyata hanya sampai disitu saja. Saya masih belum percaya kalau ternyata saya memiliki seorang bapak, yaitu seseorang yang memiliki otoritas penuh untuk mengarahkan pada jalan kebenaran dan meluruskan jika terjadi kesalahan, menjadi penghibur dikala duka-lara, serta sebagai pemandu soraknya ketika melihat anaknya itu berprestasi.

 

Yang membuat saya sedih saat diberi kabar tentang kematian bapak saya bukan karena kematiannya itu, tapi seseorang yang membawa kabar itu mengatakan sesuatu yang hanya berdasar nafsu serta sangkaan dan standar pribadinya sendiri. Saat itu saya sedang sarapan kemudian dengan ekspresi kurang setuju dia mengatakan, "kamu ini, mendengar bapaknya meninggal, makannya lahap saja." Saya diam saja dan hanya marah dalam hati, "memangnya saya harus berbuat apa ? Menangis meraung-raung, lalu nasi saya lempar, begitu maunya ?".

 

Dari situ saya belajar, kenapa banyak sekali orang-orang yang menganggap kebenaran itu hanya dengan menggunakan standar pribadinya saja ? Sehingga kalau dia melihat ketidaksesuaian pada diri orang lain, dianggapnya orang lain itu salah dan seolah dia berhak untuk menegur bahkan marah. Setiap orang tentu butuh wejangan atau nasehat, biarpun kata-kata yang digunakan terangkai dengan begitu indahnya, tapi kalau tidak tepat penyampaiannya, maka nasehat itu bukan menjadi masukan tapi sebaliknya justru menjadi dendam.

 

Hancur

 

Saat sudah dikelas 2 SMK saya ........ hari Jum'at pagi mandi, baru ketemu mandi lagi hari Senin pagi. Artinya dalam seminggu, selama 3 hari saya tidak pernah mandi karena .........

 

 

Insyaalloh, to be continued !!!