Make your own free website on Tripod.com

SISI LAIN KEMAJUAN TEKHNOLOGI

 

Oleh : Agus Hidayat

 

Hari gini ga punya hanphone ?

 

Inilah sepenggal kalimat dari sebuah iklan handphone (HP) yang sekarang begitu melekat ditelinga masyarakat. Sehubungan dengan suksesnya iklan tersebut yang telah berhasil menguasai benak khalayak, ada sebuah kejadian yang cukup menggelikan.

 

Beberapa waktu lalu dikawasan Bintaro Jakarta Selatan tepatnya sekitar seratus meter dari STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), seorang pemilik warung Tegal (warteg), namanya Pak Andi. Disebelah warungnya terdapat ruko yang sebagian masih kosong. Oleh pemilik ruko yang masih terbilang saudaranya, Pak Andi diberikan amanat menjadi perantara bagi orang yang hendak menyewa ruko tersebut.

 

Satu hari M. Soleh dan Bachtiar yang hendak buka usaha bersama dibidang komputer tertarik mengontrak ruko itu. Setelah diberi uang tanda jadi mereka lalu minta nomor HP Pak Andi. Besoknya mereka menghubungi nomor tersebut tapi selalu gagal tidak tersambung. Seminggu kemudian mereka datang untuk menyelesaikan urusan kontrakannya.

 

Setelah dikonfirmasi oleh keduanya, dengan sedikit kaget Pak Andi menunjukkan HP-nya yang masih terlihat bagus dan mulus. “Mungkin saja jarang dipakai karena sewaktu kami minta diperlihatkan HP-nya ternyata dalam keadaan dimatikan. Usut punya usut ternyata HP-nya itu cuma disimpan saja. Waktu saya minta untuk lihat HP-nya, ternyata sedang dimatikan”, ujar M. Soleh. Ternyata Pak Andi tidak tahu kalau kartu IM3-nya memiliki batasan waktu dan uangnya bisa hangus. “Saya pikir asal tidak dipakai, pulsa saya tetap banyak,” ujar M. Soleh menirukan ucapan Pak Andi tersebut.

 

Pak Andi baru sadar kalau uangnya yang seratus ribu rupiah kini telah hangus. Dia membeli kartu perdana IM3 dengan pulsa seratus ribu rupiah bersamaan ketika membeli HP Nokia-nya itu. “Waktu saya tanya, sudah berapa lama HP-nya tidak dipakai, dia bilang sudah sekitar tiga bulan lebih”, ujar M. Soleh menambahkan.

 

Hanphone Penunjang Penampilan

 

Sementara itu, Suryani seorang wanita karir yang bekerja disebuah perusahaan alat-alat kesehatan joint venture menceritakan tentang tujuannya memiliki HP. Sebagai seorang yang selalu menemui klien, penampilan baginya menjadi prioritas utama termasuk aksesoris pribadi yakni handphone.

 

Tapi Suryani sendiri mengaku, banyak fitur-fitur yang ada di HP-nya yang dia tidak tahu. “Saya juga sebenarnya kurang begitu mengerti menu-menu yang ada di HP saya”, demikian ungkapnya sambil menunjukkan HP-nya yang bermerek Samsung. Dia juga mengatakan bahwa hal itu merupakan bagian dari tuntutan profesi. “Sebenarnya sih sayang karena saya cuma pakai buat telpon dan SMS saja. Tapi mau bagaimana lagi, sebab kalau saya bawa HP yang kelihatan lamaan sedikit kan, gimana gitu ?” (AHS)

 

KORAN PAS; 6 Juni 2005

 

[Catatan]  [Home]