Make your own free website on Tripod.com

Pengangguran Jadi Ladang Bisnis

 

Oleh : Agus Hidayat

 

Menjadi seorang pengangguran bukanlah impian, tapi itulah kenyataan pahit yang harus diterima. Adalah Yanto (25) pemuda lajang yang telah setahun lebih mengantongi ijasah sarjana sastra Jerman dari Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung. Tekadnya untuk bisa bekerja begitu kuat terbukti dengan seringnya atau hampir setiap hari dia mendatangi sejumlah kantor untuk melamar pekerjaan tetapi hasilnya tetap nihil.

 

Yanto sebenarnya hanyalah satu diantara puluhan juta pengangguran di Indonesia usia produktif. Jumlah ini diramalkan oleh para pemerhati masalah-masalah sosial akan meningkat mencapai 45 juta orang. Hari Rabu Minggu lalu Yanto mendapat panggilan dari sebuah perusahaan yang cukup besar yang salah satu cabangnya berada di Bekasi.

 

Seperti biasa, pemuda ini mendatangi kantor tersebut tentunya penuh harapan walaupun dia sendiri tidak terlalu berharap banyak. “Yang penting saya sudah berusaha dan menjalankan apa yang seharusnya saya dilakukan,” ungkapnya lirih.

 

Kenaikan BBM, Hidup Lebih Berat

 

Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang diumumkan beberapa hari lalu bagi Yanto, itu berarti beban hidupnya akan semakin bertambah. Betapa tidak, sebab untuk melamar pekerjaan kebeberapa kantor yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya dan sudah pasti butuh biaya untuk transport yang dirasakan Yanto sebagai sesuatu yang sangat menyiksa batinnya. “Saya malu karena masih saja menjadi beban bagi orang tua”, katanya.

 

Ditengah situasi dan kondisi yang sulit seperti yang dialami Yanto ini biasanya justru menjadi peluang untuk mengeruk keuntungan bagi kalangan tertentu. Mereka biasanya muncul berkedok sebagai “dewa” penolong yang mampu memberi solusi atau jalan keluar kepada mereka yang tengah dihimpit masalah seperti yang dialami Yanto tersebut. Tawaran yang paling klasik yang selalu diumbar oleh mereka dalam menjebak orang seperti Yanto ini adalah berupa iming-iming pekerjaan dengan syarat harus mau mengeluarkan sejumlah uang yang biasanya mencapai ratusan ribu rupiah untuk biaya training.

 

Ada yang menjanjikan mereka bisa bekerja, asal dapat mencari nasabah yang mau menanamkan modal diperusahaannya paling sedikit seratus ribu dolar. Namun kalau tidak bisa, dia sendiri yang harus menanamkan modal, yang kalau dirupiahkan nilainya mencapai puluhan juta.

 

Seperti beberapa waktu lalu, Yanto nyaris saja menjadi korban penipuan seperti itu ketika dirinya mendatangi salah satu tempat di Kranggan, Bekasi. Menurut Yanto, saat berada di salah satu kantor yang menawarkan pekerjaan itu dirinya menjadi curiga dan terlibat pertengkaran sengit dengan seseorang yang menawarkan pekerjaan kepadanya dengan syarat harus terlebih dahulu menyerahkan sejumlah uang sebagai biaya training. “Saya kesini untuk mencari uang, bukan mengeluarkan uang”, kata Yanto ketus kepada orang tadi.

 

Menurut penelusuran, kasus seperti yang dialami Yanto diatas sebenarnya bukan lagi hal baru dan korbannyapun sudah demikian banyak. Walau cara dan tempat kejadian berbeda. (AHS)

 

KORAN PAS, 11 April 2005

 

[Catatan]  [Home]