Make your own free website on Tripod.com

ANAK BUNUH DIRI, SALAH SIAPA ?

Oleh Agus Hidayat

Kehidupan yang serba cepat dan fenomena glamour serta semakin gencarnya berita tentang peristiwa tindak kekerasan maupun berita kriminal, telah mampu menumbuhkan pola pikir “potong kompas” bagi sebagian masyarakat untuk bisa lepas dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi. Bunuh diri merupakan salah satu jalan keluarnya.

Mengapa seseorang bisa nekad melakukan tindakan bunuh diri, bahkan oleh anak-anak dan remaja yang seharusnya mereka menikmati keceriaan, bahagia penuh canda-tawa ?

Beberapa kasus tindakan bunuh diri belakang ini sontak mengagetkan kita, padahal pemicunya hanya berupa hal-hal yang sepele. Ada yang cuma karena dimarahi orang tua, atau yang karena malu akibat nunggak bayar SPP berbulan-bulan, dan lain sebagainya.

Kasus di Jawa Timur di penghunjung tahun 2004 misalnya, hanya karena diomeli ibunya untuk segera mandi, Andini Putri Setya Dewi (8 tahun), siswa SDN Gubeng Jaya 1 Surabaya nekad bunuh diri dikamarnya dengan leher terjerat tali. Demikian pula Eko Haryanto (15 tahun) siswa kelas VI SD Kepunduhan 01, Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal Jawa Tengah, nekad gantung diri karena menunggak uang sekolah, meski nyawanya dapat diselamatkan.

Belum Mampu Berpikir Rasional

Anak-anak dan remaja belum memiliki pola pikir yang rasional, mereka masih terombang-ambing oleh perjalanan hidupnya mencari jatidiri. Mereka rentan terhadap berbagai virus kejiwaan yang siap menguasai, menggerogoti serta mengancam kebahagiaannya. Mereka perlu imun untuk menangkal serangan-serangan tersebut dengan melakukan penyelaman lebih mendalam tentang suasana jiwanya.

Perilaku seorang anak sebagai bagian dari anggota masyarakat sangat dipengaruhi bagaimana dia mengalami proses sosialisasi. Menurut Fuller dan Jacobs (1973 : 168 – 208), bahwa terdapat empat agen utama sosialisasi, yakni keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan.

Keluarga memiliki peran utama dalam pembentukan karakter seorang anak sehingga tingkah laku yang ditampilkan adalah cermin dari kekuatan “pondasi” yang tertanam didalamnya. Mereka butuh kasih sayang, penerimaan dan ketenangan sehingga terciptalah jalinan yang lebih erat dengan orangtuanya atau anggota keluarga terdekat yang lain.

Apa yang dialami anak-anak dan remaja hingga memutuskan untuk bunuh diri, intinya adalah karena timbulnya perasaan kurang berharga dalam hidupnya. Motivasi dasar dari tindakan bunuh diri ini telah ada sejak awal kehidupan manusia yakni dengan membawa insting mati (thanatos) disamping insting hidup (eros). Dengan membawa bekal kedua motivasi pilihan tersebut, manusia cenderung akan melakukan tindakan berdasarkan stimulus lingkungannya.

Kalau seseorang merasakan kepuasan, maka insting hidupnya menguat sehingga dia merasakan kebahagiaan dan ringan menatap masa depan. Sebaliknya kalau seseorang merasakan kekecewaan-kekecewaan, maka insting matinya akan menguat yang mendorongnya pada tindakan-tindakan nekat hingga sampai bunuh diri.

Terkadang orangtua kurang menyadari betapa pentingnya menjadi “sahabat” bagi anak-anaknya sehingga menutup peluang terjadinya hubungan yang luwes, harmonis dan saling terbuka. Berdalih karena kesibukan untuk memenuhi kebutuhan biologis, orangtua cenderung lupa atau dikarenakan oleh keadaan sehingga menjadi lupa, bahwa kebutuhan psikologis bagi anak-anaknya juga tidak kalah penting.

Kurangnya kebersamaan dengan orangtua, tidak heran kalau mereka mengalami lompatan edukasi sosialisasi, dimana seorang anak belum penuh mendapatkan hak-haknya menerima pendidikan dalam keluarga tapi sudah keburu diambil alih oleh media massa. Memang tidak semua tampilan media massa merusak, tapi bukankah seorang anak masih belum memiliki kemampuan daya nalar untuk menentukan baik dan buruk untuk dirinya ?

Ditambah lagi beban berat tugas-tugas dari sekolah, sedangkan guru sebagai pengganti orangtua disekolah kurang mampu menjadi seorang psikiater bagi anak didiknya, tentu dengan berbagai alasan yang ada. Sehingga anak-anak mengalami beban psikologis yang sangat berat, sementara tidak ada orang dewasa yang mampu memahami kondisinya.

Dalam keadaan seperti itu, seorang anak dan remaja harus menghadapi dunianya seorang diri tanpa bimbingan apalagi pemandu sorak yang mampu membangkitkan semangat hidupnya. Maka tidak heran kalau mereka lalu merasakan hidup yang gersang, minim cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang seharusnya melakukan itu. Dari sinilah kemudian timbul keinginan untuk merebut perhatian yang hilang itu, walau dengan caranya sendiri.

Dimarahi orangtua atau malu tidak bisa bayar uang sekolah (SPP), hanyalah faktor pencetus saja, karena pada hakekatnya tindakan bunuh diri dilakukan adalah karena adanya akumulasi kekecewaan pada diri seorang anak atau remaja yang merasa dirinya tidak lagi berharga. Bagi mereka kematian adalah kebebasan akhir yang akan menimbulkan perhatian bagi orang-orang yang selama ini tidak sempat memberikan perhatian kepadanya. Dengan bunuh diri mereka merasa telah berhasil merebut kembali perhatian yang selayaknya diperoleh, dan seolah ingin mengatakan, “Mama, papa...aku ada disiini !!!”

KORAN PAS; Opini; 11 Mei 2005

[Catatan]  [Home]